Sentuh Aku Lagi, Sayang!
“Bangun, Sayang. Lihat aku. Aku lebih cantik dari Dara. Aku lebih baik dari Dara.”
Dia menekan tombol kirim sekali lagi. Sebuah pesan singkat menyertai foto itu.
“Malam ini, aku bermimpi tentangmu. Maukah kamu bermimpi tentangku juga?”
Masih tidak ada balasan.
Luna menghela napas, mulai frustrasi. Tapi kemudian ia tersenyum—senyum yang mengerikan, penuh dengan kesabaran yang tidak sehat.
“Tidak apa-apa, Sayang. Besok pagi kamu akan lihat. Dan kamu akan tahu. Aku yang terbaik untukmu.”