Hasrat Terlarang Sepupu Tampan
Jemarinya mengetuk permukaan meja kayu jati, ritme pelan tapi memicu rasa tertekan di dada Leo.
"Aku gak pernah berhenti di tengah jalan, Leo," suara Renand rendah, dalam, nyaris seperti ancaman yang terucap santai. “Sekali aku sudah menentukan langkah, aku akan tuntaskan. Sampai akhir.”
Leo mengangkat kedua tangannya, menyerah.
"Ya Tuhan, sikapmu ini gak pernah berubah dari dulu, ya."
Renand hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia menarik laci meja, menutup rapat berkas-berkas itu seakan mengunci sebuah rahasia besar.