Pernikahan Penuh Luka
Kali ini, panggilan masuk.
Bara.
Aku menatap layar itu lama, terlalu lama, hingga deringnya hampir berhenti. Dengan napas gemetar, aku menggeser ikon hijau.
“Assalamu’alaikum,” suaraku lirih.
Di seberang sana, Bara terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Wa’alaikumussalam… Aisyah.”
Aku menutup mata. Dalam diamku, ada ribuan pertanyaan yang ingin keluar. Tentang foto itu. Tentang Bela. Tentang kenapa Bela bisa bersama Bara.