Ada sesuatu tentang kalimat 'ya sayyidi' yang selalu membuat napasku melambat dan hati menjadi hangat.
Di majelis tempat aku tumbuh, kata itu bukan sekadar seruan; ia adalah panggilan penuh hormat kepada Nabi Muhammad—seorang pemimpin rohani, teladan, dan penjaga teladan etika. Secara bahasa, 'ya' adalah panggilan, sementara 'sayyidi' berarti 'tuan' atau 'pemimpin', jadi secara sederhana itu seperti memanggil: 'Wahai Pemimpin-ku'. Dalam lirik sholawat, frasa ini biasanya diikuti oleh permohonan agar Nabi mendapat shalawat dan salam dari Allah, karena umat Muslim percaya bahwa mengingat beliau membawa berkah dan mendekatkan jiwa kepada jalan kebaikan.
Dari sudut pandang spiritual, melantunkannya membuatku merasa terhubung lintas waktu—dengan generasi yang sama-sama meneteskan air mata haru atau tersenyum dalam doa. Penting juga mengingat bahwa niatnya bukan menyamakan Nabi dengan Tuhan; melainkan menegaskan cinta, rasa hormat, dan permintaan agar doa kita diangkat lewat perantara beliau. Bagi banyak orang, 'ya sayyidi' adalah doa sederhana yang menenangkan, pengingat untuk meniru akhlak beliau, dan cara menjaga cinta itu hidup di antara kita.