OBSESI BARA
Namun, bersamaan itupula raut kekhawatiran nampak jelas dalam matanya.
“Laila ... astagfirullah ... tangan kamu?”
Bara semakin dibuat tercengang mendapati telapak tangan Laila yang berdarah —sudah kering.
“Laila? Katakan, siapa yang buat kamu seperti ini!” Bara marah. Rahangnya mengeras emosi.
“Mas ... ini, hanya luka--”
“Luka kecil?” potong Bara cepat. “Ini luka yang parah, Laila! Lihat?”