KURELAKAN SUAMIKU UNTUK MANTANNYA
"Tentu. Aku bukan laki-laki yang seperti itu. Doakan semoga aku bisa sukses. Agar aku bisa pantas untuk bersanding denganmu."
Kami saling berpandangan. Hanya sebatas berpandangan saja. Mata indahnya, terlihat begitu sayu. Sama sekali tidak ada keceriaan seperti hari-hari sebelumnya.
"Sudah jam setengah tiga," ucap Luna.
"Itu artinya, aku harus segera pergi, sebelum terlambat," jawabku.
"Aku berharap, hujan tidak akan reda. Kemudian ada banjir. Biar saja kita terjebak di sini, sampai pagi, dan kamu tidak jadi pergi," ucapnya.