MADU YANG BERACUN
Mata itu menuntut.
“Mas usahakan.”
“Harus, ya, Mas,” kata Jasmine kemudian memeluk Lintang. Mas memang suami terbaik,” pujinya. Di balik pelukan itu, senyumnya terukir, tipis dan tajam.
Sementara Lintang terdiam. Kepalanya terasa penuh. Janji itu seperti beban yang menekan tanpa jalan keluar.
“Lihat, Mandul! Tidak ada cela untukmu menang! Kau kalah, kau akan selalu kalah, memang sudah takdirmu!” batin Jasmine.