PHOSPENE
Ah iya, kau juga tersenyum saat itu, senyum pertama kali yang aku lihat dari seorang kamu, wanita berwajah dingin.
Tadi siang saat kita duduk berdampingan, ku lihat lagi senyum mu. Ya, dalam sejarah perkenalan kita sejak tiga tahun lalu, hanya beberapa kali ku lihat kau tersenyum, bisa di hitung jari, sangat jarang. Senyum itu membungkamku, aku di buat kecanduan olehnya, dan yang paling penting, senyum itu di ciptakan olehku. Rasanya masih sama saat senyum sederhana mu itu masih mampu mengguncang seisi kepalaku. Menerjemahkan di dalam kepala bahwa malaikat bisa tertawa juga. “aku benci menangis, aku tidak suka tatapan-tatapan iba orang saat menatapku”. Begitu kiranya ucapmu padaku. Dasar gad
Hot Chapters