Mencintai Suami Adikku
Padahal, berita yang kusampaikan saat ini harusnya berita bahagia yang mengundang tawa, bukannya air mata.
“Seandainya bapak masih ada, beliau akan senang sekali mendengar kamu menikah, Nak.” Mamak berucap pelan, lalu mengusap kembali air matanya yang berjatuhan dengan jilbab panjangnya. “Impian bapak untuk melihatmu menikah, tapi Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita.”
“Jangan menangis terus, Mak. Matanya bisa sembab.”