CALON MERTUAKU
Padahal aku bisa teriak dan orang-orang akan datang menolongku.
“Di sini rumah jaraknya jauh-jauh, Nora. Sepi, ramai hanya ketika menjelang lebaran, lebarannya, seminggu selesai lebaran, setelah itu seperti kuburan.” Eh, kenapa Om Andi seperti membaca pikiranku?
“Terus?” Aku berusaha mengendalikan perasaan.
“Kalau jarak rumah tetangga dekat, tentu makanan yang enak ini harus kita bagi. Pintar juga kamu memasak. Pantas anak Om betah sama kamu lama-lama.”