KAMAR KEDUA
Nadine berdiri di sana, rambut yang diwarnai mahogany terurai rapi, parfumnya menusuk, ekspresinya percaya diri.
“Masuk dulu,” katanya.
“Aku tunggu Nayla di luar,” jawab Satria singkat.
Nadine mengerjapkan mata, kaget. Satria tidak memberinya ruang untuk berbicara lebih jauh.
Tak lama, suara kecil terdengar dari dalam.
“Papaaa!”
Nayla berlari dan langsung memeluknya. Satria menunduk dan mengecup pipi putrinya. Hanya pada sosok kecil inilah ia melembut tanpa berpikir.