Gue selalu terpukau sama lirik 'one day I'll be fine' karena menurut gue itu nggak cuma soal harapan kosong, tapi lebih ke pengakuan yang jujur tentang proses penyembuhan. Ada semacam keberanian dalam menerima bahwa sekarang belum oke, tapi tetap percaya ada titik terang di depan. Ini mirip banget sama tema 'kintsugi' dalam budaya Jepang—keramik retak yang diperbaiki dengan emas, justru jadi lebih indah karena pernah patah.
Di sisi lain, lirik ini juga bisa dibaca sebagai kritik halus terhadap toxic positivity yang maksa orang buat 'move on' cepat. Penyembuhan emosional itu nggak linear, dan frase 'one day' mengakomodir semua jeda, kesalahan, dan langkah mundur yang mungkin terjadi. Gue sering nemuin konsep ini di manga kayak 'Goodnight Punpun', di mana karakter utamanya berjuang bertahun-tahun buat bisa bilang 'I'm fine' dengan tulus.