Pembalasan Sang Dokter Jenius
Ia bahkan sudah menyiapkan sebuah kemeja lengan panjang berwarna biru langit yang bersih dan rapi di atas bangku.
“Ini, Nak,” kata Ibu Wati. “Kemeja Bapakmu waktu masih agak kurusan dulu. Pakai ini saja, biar lebih rapi. Yang flanel kemarin biar Ibu cuci dulu.”
Joko menatap kemeja itu. Warnanya cerah, kainnya halus, dan yang terpenting, kemeja itu disetrika dengan sangat rapi, masih menyisakan aroma wangi pelembut pakaian. Ini bukan sekadar pinjaman. Ini adalah bentuk dukungan dan doa restu.