Menuju Matahari
“Nah, iya, betul, Paman. Kuda kami tadi juga ribut ketakutan waktu ada gempa. Mereka rupanya belum pernah mengalami gempa sebelumnya.”
Pria itu tertawa. “Jangankan kuda, kita manusia saja takut oleh gempa. Mari, ikut bergabung ke rombongan kami saja! Kami sedang menuju Gunung Wijil, lalu terus ke Paranggelung. Kalian hendak ke mana?”
“Ke Wijil juga. Saya hendak pulang ke sana.”
“Wah, kebetulan sekali. Dan rombongan kami pun tengah lewat dekat telaga. Ayo, mari, mari! Kami punya banyak makanan, kalau-kalau panjenengan bertiga lapar.”