POEDJAN
Tangan Amin menggerayangi Mustika dengan gemetar, namun Mustika sempat-sempatnya mengarahkan tangan itu pada tempat yang ia mau.
Dari balik suara-suara yang terdengar di kamar utama, ada dua mata sejajar dengan kenop pintu mengintip dari celah pintu yang membuka sedikit. Wajah kecil itu tidak memunculkan kebencian, apalagi ketertarikan, juga sebuah keterkejutan. Perlahan, wajah itu menarik sebuah senyuman seperti kesimpulan; lama dinanti. Senyuman itu agak sedikit mengada-ada ketika ujungnya malah melebihi yang seharusnya, seperti sebuah senyum robek ke atas. Mata yang mengintip perlahan menguning maniknya, terang dan sangat menyala dengan percampuran warna kuning tua dan muda seperti lantai
الفصول الرائجة