SUJUD TERAKHIR EMAK
“Hidup cuma sekali. Kamu mau terus jadi pecundang… atau hidup sebagai pemenang?”
Ia berbaring di kasur tipisnya, memandang langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas. Dadanya sesak. Bayangan ditolak kerja berkali-kali, ejekan orang-orang, hinaan Arman, semuanya menekan harga dirinya. Sementara di sisi lain, wajah Gita dengan senyum penuh kemenangan, lengkap dengan tas branded dan perhiasan mewah seolah menggodanya tanpa henti.
Keesokan harinya, Gita menghubunginya lebih dulu.