DILEMA DUA HATI
“Ada busnya sendiri. Gu, dengar, di sini perempuan tidak boleh keluar rumah sembarangan. Biasanya akan ditemani oleh suami, ayah, paman, kakak atau adik laki-laki dan paling minimal ditemani satu teman perempuan. Ya seperti kita sekarang ini.”
“Ya, ampun, zaman modern begini masih saja kolot.” Gu duduk dan melirik ke luar jendela. Benar saja apa kata Maida, lebih banyak laki-laki yang di luar. Satu pertanyaan yang timbul di benak Gu. Ia ke pasar termasuk ingin membeli baju dalam. Apa mungkin laki-laki juga yang menjualnya. Ah, tidak mungkin, dalam pikiran Gu. Kalau iya, gadis itu tak punya muka untuk membelinya.
Chapitres populaires