Perawan Rasa Janda
“Eh, Pak, kenapa Bapak malah minta maaf? Si janda gatel ini yang udah menggoda anak kita dan membuat kita tertipu dan malah datang ke sini.”
Wanita bergelang besar itu masih saja setia dengan anggapannya yang salah padaku. Dia masih saja menganggapku janda.
Benar-benar mengesalkan, yang membuatku ingin menarik lidahnya yang sudah asal mengataiku sebagai janda gatal. Sangat keterlaluan memang.
“Ayo, Jamal, ayo kita pulang, aku nggak mau ikut ketularan jadi gatel di sini.”