STEMPEL MISKIN UNTUK KELUARGAKU
Aku semakin bingung, kubuka aplikasi berlogo gagang telepon, lima puluh tujuh pesan belum terbaca, dari grup sekolah dan beberapa nomor pribadi, termasuk Intan.
Aku mulai membuka pesan dari grup sekolah, kubaca perlahan-lahan, setelah sebelumnya men scroll ke atas untuk melihat pesan terbaru, hari ini. Ucapan selamat terus ditujukan padaku. Kubuka lampiran yang dikirim oleh pak Wahyu, kubaca dengan seksama.
“Bapaaakk, Emaaak,” aku berlari menuju bapak dan emak, tidak kuhiraukan rumput yang menghalangi jalanku. Bapak dan emak memandangku heran.
Hot Chapters