Mawar Merah Di Ujung Penyesalan
Jasnya kusut, dasinya miring, matanya dipenuhi gurat merah yang mengerikan, dan seluruh tubuhnya memancarkan bau alkohol yang menyengat serta aura keputusasaan yang hampir hancur.
Dia menatap Tania dengan tajam, suaranya serak seperti embusan angin dari mesin tua yang rusak.
"Tania ... selamat ya ...."
Dia maju selangkah, hampir seperti sedang memohon. "Kita bicara ... lima menit saja ... nggak, tiga menit sudah cukup! Kasih aku satu kesempatan lagi ... yang terakhir! Aku mohon padamu ... tanpa kamu ... aku benar-benar ... nggak bisa lanjut hidup lagi ...."