Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

Banyak tuan muda dari keluarga terhormat dan beberapa sarjana buru-buru menyetujui. Lukman mengangguk, lalu tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, aku akan menerima kehormatan ini. Karena ini adalah kompetisi puisi, wajar kalau kita bertemu dengan teman yang sama-sama menggemari puisi. Sebenarnya, aku ingin mengajukan topik membangun dan mempertahankan negara. Tapi, Tuan Wahyudi ada di sini. Waktu itu, puisi 'Mengenang Dirga' yang ditulisnya menjadi sangat terkenal. Kurasa nggak ada topik yang bisa melampauinya."
96.1M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 245.7K kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Tampilkan Ulasan (2659)
Baca
+Pustaka
Winda KD Fashion
Ceritanya bagus, penuh inspirasi tapi... saya tidak setuju Wira nikah lagi. Kasihan Wulan, selama 3 tahun menahan siksa dari Wira lahir dan batinnya. Walaupun dia tersiksa, dia gak mau ninggalkan Wira, dia selalu melayani dan memenuhi kebutuhan Wira. Wira jadi orang kaya, malah nambah istri lagi ...
Hasan Aunur Rofiq
saya sangat menyukai novel ini karena ceritanya sangat menarik dan pembaca dapat dengan mudah memahami isi novel ini tetapi sayangnya bab di dlm novel ini sangat pendek namun dengan kelebihan dan kekurangan tersebut novel ini tetap sangat layak untuk di baca dan terimakasih untuk pembuat novel ......
Baca Semua Ulasan
DIARY SKIZO

DIARY SKIZO

Mungkin Mama sedang mengisi daya batrainya. Kulirik Pak Afnan, dia sedang sibuk dengan gawainya. Aku pun mengetik beberapa bait puisi untuk membunuh waktu, daripada keolenganku kambuh. RANJAU Tuhan Bila hati salah melangkah Tunjukkan arah Bila rasa adalah dosa Hapus segera Dialah gelora Pada cita yang tersita Pada cinta hampir ternoda
106.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 127 kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Baca
+Pustaka
Pernikahan Gadis 100 Juta

Pernikahan Gadis 100 Juta

Rona berbicara di dalam hati, menutup mata kemudian memikirkan hal-hal baik yang akan menimpanya hari-hari esok. Matahari semakin menanjak, menaiki langit dengan sedikit rasa malas sebab awan menutupi sebagian wajahnya, Maven tak begitu peduli dengan cuaca hari itu, ujian tengah semester yang sedang ia lalui banyak menyita pikirannya, jawaban yang ia tulis di kertas ujiannya membuat ia bingung tak terkendali, perihal soal bahasa indonesia yang menginginkan ia membuat sebuah puisi dengan tema cinta akan tetapi jari-jarinya bahkan tak dapat menuliskan satu kata pun, ia bahkan menulis puisi sedih yang tak berujung, rasa kesal pada dirinya sendiri ia lampiaskan pada kalimat singkat pada puisinya
2.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 110 kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Baca
+Pustaka
Bintang untuk Angkasa

Bintang untuk Angkasa

Semesta bicara tanpa bersuara / Semesta ia kadang buta aksara / Sepi itu indah, percayalah / Membisu itu anugerah Seperti hadirmu di kala gempa / Jujur dan tanpa bersandiwara / Teduhnya seperti hujan di mimpi / Berdua kita berlari Semesta bergulir tak kenal aral / Seperti langkah-langkah menuju kaki langit / Seperti genangan akankah bertahan / Atau perlahan menjadi lautan Seperti hadirmu di kala gempa / Jujur dan tanpa bersandiwara / Teduhnya seperti hujan di mimpi / Berdua kita berlari
9.870.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.3K kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Baca
+Pustaka
Dipaksa Nikah (Mencintai Istri Abdi Negara)

Dipaksa Nikah (Mencintai Istri Abdi Negara)

"Siapa yang mengajarimu membaca puisi? Hem?" "Mama." "Mama?" Kening Purnomo mengernyit. "Iya. Aku selalu membaca puisi-puisi buatan Mama." "Oh, ya? Memang Mama sering membuat puisi?" Purnomo menatap tak percaya. Ara mengangguk cepat. "Iya. Kata Mama itu puisi lama. Tapi ... syairnya kebanyakan tentang kesedihan. Aku nggak tahu maksudnya apa. Tapi bagus," celotehnya.
101.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Baca
+Pustaka
My Boyfriend

My Boyfriend

Gibran kembali memainkan piano dengan sangat lincah kali ini, Gibran akan menyanyikan lagu : Judul : Takkan pernah terindah By : The paspour Penggalan : Tak kan pernah terindah Tak kan pernah terabaikan Kou hancurkan, diriku Kini pun kou tlah pergi Meninggalkan diriku Untuk selama-lamanya Dst.
4.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 111 kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Baca
+Pustaka
Dipaksa Menikah dengan Suami Sahabatku

Dipaksa Menikah dengan Suami Sahabatku

"Dulu aku suka membuat puisi. Lalu diam-diam menyelipkannya di laci mejamu saat kelasmu sudah kosong sepulang sekolah. Aku hampir setiap hari melakukannya. Jadi Jihan bagian mengamati situasi kalau-kalau ada siswa yang lewat kelasmu. Itu konyol sekali." "Puisi? Itu buatanmu? Sungguh buatanmu?" tanya Bian dengan wajah serius tiba-tiba. "Ya. Aku membuat puisi dengan judul bertema alam. Ada bulan, awan, bintang, hujan, pohon, laut, dan sebagainya. Aku letakkan di bawah laci mejamu." "Kal, kau tidak berbohong, kan?" Ada nada mendesak di sana.
3.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 118 kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Baca
+Pustaka
Ai (Untuk Leo)

Ai (Untuk Leo)

Kau Maha Adil Sang Pencipta Raga dan jiwaku kau wakilkan Hingga kubisa tenang pada waktunya Tunggulah aku semuanya Susulanku segera kalian terima Hingga waktu itu tiba Leo terkesan dengan dengan sajak puisi yang telah ia baca tersebut. Ia yakin, puisi ini memiliki makna tersendiri dan bukan hanya sekedar karangan. Terpikir dalam pikirannya untuk mencari tahu siapa penulisnya. Maka dibukalah lagi lembaran berikutnya. "Berlarilah karena mimpimu, jangan dengarkan perkataan mereka tentang mimpimu, Biarkan mereka tidak tahu, siapa sebenarnya dirimu."
103.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 118 kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Baca
+Pustaka
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Saram dikenal bukan karena banyak bicara, tapi karena satu antologi puisi berjudul Tanah yang Menolak Diam. Puisi-puisi dalam antologi itu bukan sekadar kata-kata: mereka menggugah lapisan realitas. Salah satunya, “Nyanyian Retakan Ketiga,” dibacakan secara tak sengaja di Balairung Batu saat musim kekeringan. Sesaat setelah bait keempat, tanah di bawah Tilangkar retak perlahan, mengalirkan air asin dari dalam bumi yang diyakini telah mati. Warga menyebutnya air kenang, karena baunya memancing ingatan orang-orang akan tempat yang tak pernah mereka kunjungi, tapi mereka rindukan.
101.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Baca
+Pustaka
Pagi yang Enggan Kembali

Pagi yang Enggan Kembali

"Siapa namanya, Mas?" "Arya," jawabnya. "Ini Ria, aku Anggun," tambah Anggun tiba-tiba. Ia menimbrung menyodorkan piring berisi gorengan. Arya mengambil satu. Para pemuda itu kembali melebur dalam bincang santai. Tiga karyawan bengkel sudah sibuk membongkar mesin. Di dalam dapur yang dapat dipantau langsung dari luar, ibu pemilik rumah menyalakan kompor. Ia hendak membuat gorengan baru, sesuai pesanan muda-mudi yang Tuhan takdirkan datang berkunjung. Awan agaknya masih ingin berlama-lama menumpahkan tampungannya. Atap seng yang dijatuhi ribuan tetes air membuat mereka harus bicara dengan suara tinggi agar dapat didengar.
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 45 kali sebagai puisi karya goenawan mohamad
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status