Ada satu puisi kemerdekaan tiga bait yang sering banget muncul di buku pelajaran atau upacara 17 Agustus, dan itu bikin penasaran siapa sebenarnya otak di baliknya. Setelah ngubek-ngubek arsip sastra, ternyata karya itu sering dikaitin sama Chairil Anwar, tapi sebenarnya nggak sepenuhnya benar. Justru puisi 'Krawang-Bekasi' karya Khairil Anwar yang lebih epik, meski lebih dari tiga bait. Kalau yang tiga bait, mungkin maksudnya 'Diponegoro' karya Chairil, tapi ini juga lebih panjang. Jadi kayaknya puisi tiga bait terkenal itu semacam 'puisi rakyat' yang penulisnya nggak diketahui pasti, tapi sering banget dipakai karena ringkas dan powerful.
Yang menarik, puisi-puisi kemerdekaan jaman dulu itu banyak yang ditulis secara anonim, terutama yang beredar di masa revolusi. Mereka lebih fokus pada pesannya daripada nama penulisnya. Jadi mungkin puisi tiga bait yang sering kita dengar itu adalah hasil dari semangat kolektif zaman itu, bukan karya satu orang tertentu. Tapi kalau mau cari yang paling iconic dari penulis terkenal, 'Karawang-Bekasi' tetap juaranya buatku.