Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
SYAIR SINGGASANA 2 : DARAH PARA RAJA

SYAIR SINGGASANA 2 : DARAH PARA RAJA

Aku menunduk malu “Kau tangguh dalam perang, kau bisa mengalahkan puluhan musuh hanya seorang diri di perang Kayu Bulan, ketangkasanmu menyebar ke seantero negeri seperti suara gemuruh petir. Bodoh jika ada yang berusaha menantangmu duel.” “Tapi paduka juga mahasakti..”
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 79 kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Baca
+Pustaka
Love Me, Sersan!

Love Me, Sersan!

Gugur Bunga ... Telah gugur pahlawanku Tunai sudah janji bakti Gugur satu tumbuh s’ribu Tanah air jaya sakti Lagu gugur bunga mengiringi prosesi pemakaman yang dilangsungkan secara militer. Aku tidak mampu menahan air mata yang memaksa menerabas melalui sudut netra.
9.9120.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.6K kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Baca
+Pustaka
GAMBAR SUAMIKU DAN SELINGKUHANNYA DI BALIHO RAKSASA

GAMBAR SUAMIKU DAN SELINGKUHANNYA DI BALIHO RAKSASA

“Puitis amat sih, Pak.” “Dulu saya memang suka puisi. Saya suka puisi cinta dari Kahlil Gibran. Waktu SMA saya suka sama seorang wanita tapi ditolak karena gak bisa nembak. Jadi dia bilang mau pacaran sama sahabat saya saja, tapi ternyata sahabat saya itu juga gak bisa nembak. Akhirnya dia pacaran sama guru BK.” “Sedih amat kisah Bapak.”
2.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 85 kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Baca
+Pustaka
Geger Kahyangan

Geger Kahyangan

DUUUMMMM! (Yang ingin membaca di KK, formatnya di pencarian adalah @gibranpenulis. maka disana akan terlihat semua karya saya. Ada Sang Kesatria Terakhir yg menceritakan ayah Bara Sena, Pendekar Kilat Neraka cerita Gandi, Pendekar Golok Iblis tentang Bara Sena, Perjalanan Sang Batara cerita awal Batara Geni. Saya tetep up disini, tapi jarang² karena saya banyak pekerjaan di dunia nyata. terimakasih yg sudah datang ke karya karsa)
8.962.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.9K kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Baca
+Pustaka
Dikejar Lagi oleh Istri CEOku

Dikejar Lagi oleh Istri CEOku

Alangkah indahnya! "Burung kuntul terbang di langit, bunga persik mengapung di air. Di tengah angin kencang dan hujan deras, tidak ada yang perlu pulang. Bagus, puisi ini memang bagus! Genius tak tertandingi masa itu memang keren!" puji Ghufran sambil mengelus janggutnya. "Pujian Dokter Ghufran berlebihan, tulisan ini masih kurang terkesan kuat," sahut Luther mengangkat kepalanya. Kenangan 10 tahun tiba-tiba muncul di benaknya.
8.83.6M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 83.6K kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Tampilkan Ulasan (736)
Baca
+Pustaka
Panessa Selvia
TAMAT. jadi mnurut kesimpulan saya. luter ditingkatan transendensi roh(tingkatan paling atas kultivasi) sudah ga yg ngusik lagi, sudah bagaikan dewa. makanya dibuat hidup tenang diakhir crita. tpi masih gantung, ayahnya di atlandia masih hidup/wafat? dan Bianca tau GK luter=Gerald Bennet?
Adelia
Ijin promosi novel judul: Amnesti Sang Eksekutor Aku hanya ingin satu malam pelarian untuk melupakan pengkhianatan mantan kekasihku. Sialnya, pria yang kutemui di bar dan hampir tidur denganku semalam adalah Arkana Wijaya, eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memecat seluruh departemenku
Baca Semua Ulasan
Si Burik Jadi Cantik Saat Reuni

Si Burik Jadi Cantik Saat Reuni

Tiba-tiba saja suasana gaduh di dalam kelas begitu kentara saat teman-teman lain ikut masuk dan menertawakan Silvi. “Baca! Baca! Baca, Ga.” Anak-anak bersorak meminta Rangga membacanya. Antusias mereka seperti akan dibacakan sebuah dongeng sebelum tidur. “Oke,” sahut Rangga menyetujui permintaan teman-temannya. Rangga naik ke atas meja, bergaya seperti sedang menaiki podium untuk membacakan sesuatu yang penting. “Dia Pahlawanku.”
105.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 140 kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Baca
+Pustaka
Suamiku Bukan Kuli Panggul Biasa

Suamiku Bukan Kuli Panggul Biasa

tambahku kemudian berdiri di dekat pintu menuju ruang tamu. “Korban apa?” Ibu Maharani menimpali dengan nada tinggi. “Dia tuh cuma cari-cari simpati. Selamat dikit, langsung dicap pahlawan. Padahal? Nihil!” “Lagipula,” timpal Utami dari arah ruang makan, “kalau dia enggak becus kerja, ya wajar dong dicurigai. Bawa nama keluarga aja udah bikin malu. Untung nggak kebakaran satu pasar gara-gara dia!”
102.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Baca
+Pustaka
Sang Penakluk

Sang Penakluk

gumam Siwi yang mengenal orang dalam cakupan luas. “Bukannya dia pengarang novel romantis itu?” timpal Shana yang ternyata langsung menebak dengan benar. “Iya. Dia pengarang terkenal, Niara Tatiane Situmorang, cucu dari Martin Situmorang, Sang Pujangga yang terkenal dari dulu!” Shana bahkan mengungkap siapa Niara ini.
1046.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.7K kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Baca
+Pustaka
The Devil's Mistress

The Devil's Mistress

Kilau sinar di pagi hari Sambut jiwa yang penuh ambisi Memulai langkah mengarungi Masa depan yang cerah dinanti Kumulai dengan langkah pasti Menatap cahaya sang mentari Denyut nadi yang tak henti Menapak langkah teguhkan hati Tentang harapan tentang cita Walau jauh kan ku tempuh jua Setinggi bintang hias angkasa Ku akan tetap tuk menggapainya Sejuta langkah tuk meraihnya Seluas lautan keringatku Tak akan pernah pedulikan Ku akan raih semua impian Oleh: wawan setiawan * “Aku menyukai ekspresi yang tersurat. Ada kegigihan yang dituangkan dalam tiap katanya,” gumam Joya. “Ajaib, Indonesia memiliki banyak pujangga muda yang berbakat. Puisi itu adalah salah satu kesukaanku.” Virgo menuangkan kemb
1088.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.4K kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Baca
+Pustaka
Cacian Keluarga SuamiKu

Cacian Keluarga SuamiKu

Ia sering teringat wajah para pemuda yang gugur ketika melawan Surapati. Suatu sore, ia duduk bersama Pak Suryo di bawah pohon randu. “Pak… apakah aku benar-benar pantas disebut pahlawan?” tanyanya pelan. Pak Suryo menatapnya dengan mata tua yang penuh kebijaksanaan. “Kenapa kamu berkata begitu, Artha?” “Aku memang melawan Surapati… tapi banyak teman kita yang mati. Kadang aku merasa, mungkin aku hanya beruntung selamat. Mereka yang gugur… seharusnya mereka yang mendapat kehormatan, bukan aku.”
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 118 kali sebagai puisi guruku pahlawanku
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status