Kak, Aku Kedinginan
Seluruh tenaganya seakan terkuras habis hingga perlahan dia terduduk berlutut di lantai.
Kak Dimas bertumpu pada kusen pintu. Jakunnya naik turun dengan cepat beberapa kali.
Dia ingin mengatakan sesuatu.
Mulutnya terbuka tiga kali, tetapi tidak satu suara pun keluar.
Kemudian, dia tiba-tiba berbalik, bertumpu pada dinding, lalu membungkuk seolah hendak muntah.
Jiwaku melayang di atas ruang pendingin, menunduk memandangi ketiga pria itu.