40 Hari Setelah Kematian Bapak
Kain kafannya yang tampak kotor karena tanah berdesir perlahan, memancarkan aura ketenangan namun juga tampak mengerikan.
Murni mencoba bangkit dari posisinya yang terduduk lemas. Seluruh tubuhnya seperti menolak perintahnya, tetapi ia tahu ia harus berdiri. Dengan susah payah, ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan, melawan gravitasi yang terasa semakin berat. Akhirnya, ia berhasil berdiri meskipun lututnya masih gemetar. Matanya kini menatap lurus ke arah bapaknya, sosok pocong yang melayang rendah di hadapannya.
"Bapak... Kenapa mereka... tunduk sama Bapak?" Suara Murni serak, terputus-putus. Tubuhnya masih gemetar, tetapi ia tidak bisa menahan keingintahuannya.
Hot Chapters