KINASIH
Dia percaya, sang nenek tak akan memojokkan dirinya seperti yang lain.
Ijah memeluk Asih, menangis sesenggukan. Tangannya tak henti mengusap perut buncit yang kini bergerak. "Sekarang, kamu di sini saja. Uti Akung insyaAllah masih bisa membiayai kalian berdua. Jangan pedulikan orang-orang yang bikin kamu sakit hati, mereka nggak biayain hidupmu, bukan?"
Asih mengangguk, lalu tersenyum kala sang nenek melengkungkan bibir, membentuk garis indah di wajahnya yang kini keriput.
Hot Chapters