MADU YANG BERACUN
Embun
“Baik, Kak Kamila. Nanti kami konfirmasi lewat W******p, ya.”
“Iya, Mbak,” sahutnya, lalu melenggang ke luar toko.
Embun mengembus napas pelan. “Ramai juga hari ini.”
Lily tersenyum seraya pandangannya tetap ke komputer “Iya, Bu, tapi lebih enak seperti daripada sepi.”
“Biar bisa naik gaji,” canda Lily, Embun tersenyum lebar.
Tiba-tiba ponsel Embun bergetar, dia melihat nomor yang tidak dikenal memanggil. Wanita itu mengernyitkan dahi dan bertanya dalam hati.