MY TOXIC Husband
Dia memilih untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat, takut terluka lagi, takut pada janji yang mudah hancur seperti kisah orang tuanya.
"Huekkk… huekkk…" Quensa terbatuk hebat, muntah tanpa henti sejak pagi. Kepalanya berdenyut tajam, tubuhnya lemas tak bertenaga. Dengan suara parau, ia menggumam, "Tuhan, kenapa aku harus begini? Minggu depan aku harus terbang untuk ke Australia, tapi tubuhku malah melemah seperti ini..." Wajahnya yang biasanya cerah kini berubah kusam, penuh keputusasaan yang menggigit hati. Dunia seolah menolak memberinya jalan mudah, tepat saat harapan besar hendak ia genggam.
Sikat na Kabanata