Rasaku Ditelanjangi
Bukan ciuman tergesa, melainkan sapaan rindu yang akhirnya menemukan bentuknya.
Awalnya pelan, seperti menyapa. Lalu lebih dalam, lebih panas. Rasa rindu itu bukan lagi samar, tapi menjelma dalam setiap kecupan, setiap hela napas, setiap desahan pelan yang pecah di antara jeda.
Tangan kanannya mulai bergerak ke tengkukku, lalu ke punggung.
Pelukannya menguat.
Aku tenggelam dalam dada dan kulitnya, dalam keheningan kamar yang hanya diterangi lampu tidur redup.