ANAK TUKANG CUCI PIRING
ucap Emmeryl sambil tersenyum, merasa ada yang tidak beres di dalam hatinya, cepat Imas memalingkan pandangan, baginya senyum pemilik mata bulan sabit itu tak bisa dipandang terlalu lama karena terlalu menyejukkan.
“Maaf, ya, Pak. Rumahnya kecil, tapi nanti kalau sudah ada waktu, saya akan merenovasinya.”
“Ya Allah, Nak. Memangnya harus sebesar apa? Ini saja sudah lebih dari cukup.”
“Cukup kalau untuk kami berdua, tapi tidak kalau nanti kami punya anak.” Imas hampir tersedak ludahnya sendiri saat mendengar perkataan suaminya itu, Emmeryl yang menyadari tingkah laku Imas bak orang tersipu, dia hanya bisa menahan senyum.