ANAK TUKANG CUCI PIRING
katanya, aku hanya tersenyum tanpa mengangguk, karena tidak tahu apa aku dijadikan pagar ayu atau tidak oleh Wa Muniroh.
Jika pun iya, apa aku sanggup? Semuanya benar-benar terasa begitu berat dan menyesakkan dada.
“Berarti rumah kamu itu di Sukagalih ya, Imas? Dekat Pak Suryana?” Bu Yuni memang orang yang suka sekali bertanya dan berbicara, terkadang aku sampai kewalahan menjawabnya.
“Muhun, Ibu.”
“Wah, kebetulan. Kakak Ibu kemarin baru beli rumah di Sukagalih, soalnya dia ikut anaknya yang ditugaskan di sini.”