Nikah Yuk, Gus!
Hujan turun mendayu-dayu, membuat dinding-dinding basah, membuat kaca-kaca ruko di emper jalan penuh embun.
Sementara itu, Putra tengah memandang jendela di kamarnya, mengamati daun-daun tanaman hias yang basah kuyup oleh sapuan hujan. Tiada cahaya bulan yang singgah, pancaran sinar lampu di taman pun diselubungi dengan kabut. Ia menatap nanar tanpa peduli dengan angin kencang yang mengembuskan beberapa kubik percik air. Lihatlah, bahkan tirai rumahnya basah karena jendela tidak ditutup. Ia melawan gigil karena kalut pada hidup, membiarkan dingin memeluknya kuat-kuat. Kulitnya membiru, demikian dengan bibir dan perasaannya. Terjebak melulu di kursi roda, dianggap orang cacat membuat mobilisa
Bab Populer