Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
RUMAH EYANG

RUMAH EYANG

Aku jadi teringat kembali saat Bi Lasmi menggendong Eyang tadi, juga ekspresi Eyang. Oh iya, sama tadi kan, Bi Lasmi belanja. Berarti benar bukan Bi Lasmi yang angkat Eyang. Lalu siapa? Aku jadi bergidik sendiri. Masak sih, di rumah ini ada setan. Rumah Eyang bersih kok. Bahkan tak ada debu yang menempel di perabotan. Berkesan aesthetic aja nih rumah, karena perabotannya semua klasik.
105.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 116 kali sebagai rumah eyang
Baca
+Pustaka
Rumah Kakek

Rumah Kakek

Ditambah dengan dua kamar kecil yang salah satunya untuk karaoke keluarga dan kamar untuk asisten rumah tangga. “Hebat euy, Gung. Jadi keren begini rumahnya,” ucap ayahku. “Siapa dulu dong, Agung. Hahaha,” balas om Agung berbangga diri. “Walaupun fisik rumah ini sudah berubah, tapi kenangan di sini takkan pernah terlupakan, ya. Banyak kenangan orang tua kita disini,” ibuku menambahkan.
105.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 153 kali sebagai rumah eyang
Baca
+Pustaka
Putra Tersembunyi sang Presdir Mandul

Putra Tersembunyi sang Presdir Mandul

"Nenek mana, Nak?" "Nenek di rumah. Nggak mau diajak ke sini. Nunggu bareng Unda, katanya." Fatih kembali melihat sekeliling rumah. "Ayah, ini rumah siapa? Besar sekali, lebih besar dari rumah kita." "Ini rumah Eyang Kakung, Sayang," jawab Yusuf, sabar. "Jadi, Eyang nggak akan tinggal sama Fatih dan Ayah?"
1034.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.4K kali sebagai rumah eyang
Baca
+Pustaka
BERONDONG

BERONDONG

jaga jarak, untuk menghindari terpaan nafas Elang yang membuatnya bergidik geli. "Itu rumahnya" ucap Elang sambil menunjukan rumah yang dimaksud dengan dagunya. Maya melihat rumah yang ditunjukkan Elang. Rumah tingkat dua. Berwarna abu-abu terang yang dilapisi marmer mewah. Tinggal nyebrang doang ternyata Tanpa basa-basi Maya langsung menuju rumah bertingat dua tersebut. Maya meninggalkan Elang sendirian. Bahkan Maya lupa, tidak mengucapkan terima kasih.
108.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 193 kali sebagai rumah eyang
Baca
+Pustaka
Kaya Setelah Diusir Mertua

Kaya Setelah Diusir Mertua

"Iya. Ini rumah orang tua Mas. Semua fasilitas di rumah ini milik Mama dan Papa. Kalau rumah Mas tidak sebesar ini." Elkan duduk di tepi ranjang. Memandang Seruni yang masih terkagum-kagum dengan kamar mewah mirip hotel kelas bintang lima itu. Elkan tersenyum melihat wajah Seruni yang sedang terpesona. "Aku berasa mimpi bisa tidur di kamar ini, Mas." .
9.8737.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 24.3K kali sebagai rumah eyang
Tampilkan Ulasan (45)
Baca
+Pustaka
hajar jameela
sudah baca hampir tamat, tapi oleh masalah bab terkunci tak boleh dibuka. saya ingat ada masalah pada good novel. jadi restart baru hingga novel ini terulang seperti sebelum baca. saya tidak ingat bab terakhir saya baca jadi saya tak dapat pilih no bab nya. kalau ada tajuk maby senang saya cari.
iyet sari
setiap bab nya terlalu sedikit paragraf nya, jdi gak puas, sedangkan bab yg terkunci sunggu banyak, misal: baru aja buka kunci bab 10, scroll dikit udh langsung nyampe bab 11 dan harus buka kunci lagi, saran saya meskipun banyak part yg dikunci, setidaknya setiap bab beri paragraf yg lebih banyak
Baca Semua Ulasan
Disayang Bayi Tampan, Dipinang Pamannya yang Arogan

Disayang Bayi Tampan, Dipinang Pamannya yang Arogan

Mulai dari oleh-oleh untuk kami semua sampai ke barang pribadi Eyang. Aku tadi meminta Eyang untuk tinggal di sini lebih lama lagi. Namun beliau mengatakan jika hanya bisa satu minggu saja menginapnya. Eyang harus menginap di rumah adik Papa yang ada di Bandung. Papa tiga bersaudara. Papa anak nomor satu dan kedua adik Papa semuanya laki-laki. Adik pertama tinggal di Bandung sedangkan Adik kedua tinggal di Jogja bersama dengan Eyang. “Zain, kenapa kamu ganteng banget sih?”
1024.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 574 kali sebagai rumah eyang
Baca
+Pustaka
Yang Terpilih

Yang Terpilih

Dia mendongak, “Noh … di sono, Neng, banyak. Di mari kagak ade, terus jalan ke sono. Entar neng liat dari rumah cat ijo, mulai dari sono, coba noh tanyain. Jam segini Si Engkong ada di rumah noh.” Aku mengucapkan terimakasih dan dia kembali ke aktivisitasnya semula. Pemburu kutu, sama saja dengan di Madura, itu membuatku tersenyum sendiri. Hanya beberapa meter, sebuah rumah dua lantai terbuat dari triplek bercat hijau tertangkap mata. Aku mengetuk pintu rumah itu, yang keluar seorang kakek, berkaos singlet dan berkain sarung.
104.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 150 kali sebagai rumah eyang
Baca
+Pustaka
Gerbang Neraka: Desa Terakhir

Gerbang Neraka: Desa Terakhir

Raka, Ayuna, Darma, Yunaka, dan Elang akhirnya tiba di sana setelah menghindari pos-pos militer dan jalan-jalan yang tampaknya kini diawasi oleh sesuatu selain manusia. Mereka memilih menginap di sebuah rumah tua milik kenalan lama Darma seorang pensiunan penggali makam bernama Pak Marsud. Rumah itu sepi, dindingnya penuh lukisan wayang tua dan bau kapur barus menguar dari tiap sudut. “Elang masih demam,” ujar Ayuna sambil meletakkan kompres dingin di kening anak itu. “Tapi matanya tetap tiga... meski yang ketiga seperti tertidur.”
101.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai rumah eyang
Baca
+Pustaka
Gairah Bad Boy Salah Sasaran

Gairah Bad Boy Salah Sasaran

tanya resepsionis muda itu menawarkan solusi. Elang melambaikan tangan sebagai isyarat untuk kata tidak perlu. Homestay adalah salah satu bisnis yang ditekuni keluarga Elang dari sejak lama. Beberapa dibangun di kawasan strategis seperti Malioboro dan Parangtritis. "Brengsek!" umpat Elang keluar penginapan tanpa pamit. Dia kembali mengendarai motor ke arah rumah kediaman orang tuanya yang tak begitu jauh dari lokasi sekarang.
1011.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 350 kali sebagai rumah eyang
Baca
+Pustaka
Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama

“Semua atas permintaan Eyang. Nyokap gue mana berani ambil keputusan kaya gitu. Kata Eyang, kita semua akan semakin besar. Dan pasti akan punya privasi masing-masing. Eyang bilang, dulu rumah ini cuma ada 3 kamar. Cuma tante Marini yang pakai kamar ini sendirian. Karena dia satu-satunya anak perempuan. Sedangkan 3 saudara laki-lakinya berbagi kamar di kamar utama. Dan itu berantem mulu. Makanya cuma Tante Marini yang nilainya bagus. Saudara-saudaranya karena sibuk berantem daripada belajar, nilainya pas-pasan.” “Wow, nggak nyangka gue, Eyang Putri mikirin kita.” “Gue juga nggak nyangka dia mikirin kita segitunya.” “Tapi Eyang emang ngutamain pendidikan dari dulu. Karena katanya dia dulu oran
1015.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 496 kali sebagai rumah eyang
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status