Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa
Kepalaku mendongak, menatap langit yang cerah, dan tanpa ada awan sekali pun hanya semburat tipis, benar-benar bersih, entah pergi ke mana para awan itu, mungkin tengah mengelana ke benua lainnya, menjelajahi langit demi langit bersama para angin, yang pemberani.
Melihat langit dan mengingat awan, maka yang muncul di kepalaku selanjutnya adalah wajah lelaki itu, Naqib Kamandhana. Ia bilang tak menyukai langit, ia bilang juga tak menyukai awan, tapi Paman Qasim justru bilang sebaliknya. Langit dan awan adalah dua hal yang paling Naqib sukai.
Bab Populer