Noda Dalam Pernikahan
Air mataku kembali mengalir tanpa bisa kucegah, rasa sesak seketika memenuhi rongga dada.
Kemana hati harus mengadu, saat langkah terasa jauh dari-Nya. Bukankah sebaik-baik tempat mengadu adalah pada Tuhan yang senantiasa tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Lagi-lagi air mataku semakin deras mengalir, hingga membuatku tidak fokus pada kemudi, akhirnya aku memilih menepi. Pikiranku kembali kacau, dan hatiku sesak menyadari ternyata gundikku adalah saudara tiri sendiri. Andai saja bukan, Anita mungkin rasanya tidak seperih dan sesakit ini.