Cinta Panas Sang Penyamar
Di bawah temaram lampu kamar yang diset redup, Daffi mencengkeram bahu Sisi, mencoba menahan ritme gerakan wanita itu yang terasa begitu menuntut hampir seperti sebuah serangan daripada sebuah kemesraan.
Tangan Daffi terulur, membuat Sisi benar benar mengerang.
“Kamu basah, Sayang."
Sisi tidak menjawab. Ia justru menarik kerah piyama Daffi, mendekatkan wajah pria itu ke ceruk lehernya. Aroma sandalwood dan antiseptik khas rumah sakit menguar dari kulit Daffi, sangat kontras dengan aroma parfum maskulin tajam yang biasa dihirup Sisi di medan laga.
Bab Populer