KAU MENDUA AKU PUN SAMA
Fatimahpegang tangankukata kata minta maaf kepada istrihati istri yang tersakitifirasat istri itu tajam
“Sertifikat ini, biar Mahesa yang urus. Pokoknya kami terima beres,“ katanya. Aku menatapnya ragu. Mahesa—calon suami Adila—memang seorang pengacara dan pastinya punya teman notaris. Tapi, apa semuanya akan aman?
“Kenapa, Nai? Apa kamu takut?“ tanya Adila seolah bisa membaca pikiranku. Aku menelan saliva.
“Apa tidak akan bermasalah, Dil? Aku takut ke depannya akan jadi masalah untuk calon suamimu,“ ujarku jujur.
Adila menggeleng.
“Nggak akan, tapi kamu harus dapetin tandatangannya Medina, Nai. Soalnya ini sertifikat atas nama dia. Setelah dapat tandatangannya, insya Allah aman,“ katanya sambil memberikan sebuah kertas yang hanya kulihat sekilas.
Beliebte Kapitel