Menantu yang Sengaja Dibuang
Plak
Satu tamparan melesat di pipiku di pagi-pagi buta, betapa bukan hanya mata yang menangis, kali ini hati merintih perut seakan ingin memuntahkan kembali sepotong tempe itu.
Jika potongan tempet yang kumakan itu besar, mungkin aku merasa kenyang, ini tidak.
"Mutia minta maaf, Buk."
"Diem! Sekarang lanjut goreng tempenya, dan ingat saya awasi dari sini. Kamu ini, menantu kok kayak maling. Dasar menantu tak tau diuntung."
"Hiks hiks."
"Sok nangis kamu. Sudah mencuri makanan, masih saja bisa pasang wajah melas."
인기 회차