Cinta Panas Sang Penyamar
Dia juga memberikan satu piring sate plus dengan lontongnya.
“Dimakan saja, Pak. Gratis, kebetulan saya sudah mau tutup,” ucap Sisi ramah.
“Terimakasih, Nak. Siapa namamu?”
“Si…o. Ya, namaku Sio,” jawab Sisi.
“Terimakasih Nak Sio, rumahnya di mana?” Dengan terbatuk, dia bertanya untuk membuat Sisi tenang.
Sisi menatap pria tua itu dengan ragu. Pakaiannya lusuh, suaranya serak, dan wajahnya terlihat letih. Entah kenapa, ada sesuatu dari pria ini yang membuat Sisi merasa tak tega.
Bab Populer