Pesugihan Kandang Bubrah
Matanya menatap lekat gambar yang baru saja ia selesaikan, seperti sedang mendengarkan suara yang hanya dia bisa dengar.
Gambarnya terlihat biasa saja—sebuah rumah dengan halaman dan pohon besar di sampingnya. Tapi di sudut halaman, ada sosok hitam tinggi berdiri tanpa wajah.
“Aku sudah bilang jangan digambar lagi,” bisik Jatinegara lirih, seperti sedang bicara pada kertas itu.
Tapi pensil warna cokelat di tangannya bergerak sendiri. Garis-garis baru mulai terbentuk, membentuk bayangan panjang yang menyambung dari kaki sosok itu hingga ke pintu rumah.