Aku Istri yang Tidak Dianggap
=================
POV Adriyan
Besok adalah hari terakhirku dan Safeea di Bali, sejujurnya aku masih ingin berlama – lama di sini, namun tugasku dan Zahra sebagai seorang dokter, tidak bisa dianggap remeh. Kami memiliki kewajiban, yang harus kami tunaikan, apapun kondisinya. Sumpah kami untuk membantu pasien, jauh lebih tinggi derajatnya, dibandingkan meleyeh – leyeh bersama keluarga.
“Enak makanannya?” tanyaku pada Zahra, saat melihatnya begitu lahap menikmati sandwich dengan isian kornet sapi, sauerkraut atau semacam kubis yang di fermentasi dan swiss cheese yang begitu melted.