Suami Adikku, Ayah Anakku
Matanya meneliti wajah Damar saksama.
Kepalaku mengangguk. Iyakan saja. Biar cepat.
"Kamu sepertinya bahagia sekarang."
Lagi, aku mengangguk saja. Namun, sedetik kemudian, saat mendengar suara tawa sinis Ibu, aku menggigit dinding mulut. Aku sudah salah bicara.
"Ya, memang tidak perlu diragukan. Kamu kan memang tidak punya malu. Adikmu mati karena kamu selingkuh dengan suaminya, dan kamu hidup bahagia dengan anakmu ini."