Satu hal yang selalu bikin aku betah nonton 'Date A Live' adalah cara Shido Itsuka menghadapi semuanya dengan polos tapi tegas.
Dia bukan pahlawan yang sok sempurna—malah itu yang paling menarik. Shido punya naluri untuk melindungi dan empati yang tulus kepada 'spirits', dan itu terasa nyaris langka di genre yang sering kali menjual ketegangan romantis tanpa dasar emosional kuat. Aku suka bagaimana serial itu bikin kita melihat proses, bukan cuma hasil: ia berbicara, mengerti trauma, lalu mencoba menyembuhkan lewat pendekatan personal. Sikapnya yang nggak mudah menyerah bikin momen-momen emosional jadi legit, bukan sekadar fanservice.
Selain itu, Shido juga lucu tanpa harus berlebihan. Dia sering jadi sumber humor karena ketrampilannya menghadapi situasi awkward, tapi bukan tipe protagonis idiot—kesalahan yang dia buat sering berujung pembelajaran, dan itu bikin perkembangan karakternya terasa nyata. Dari sudut pandang penggemar, kombinasi kelemahlembutan, keberanian, dan kekonyolan yang pas membuatnya mudah dicintai. Bukan cuma soal romantisme harem; Shido jadi jangkar moral yang ngebuat konflik cerita punya tujuan. Aku selalu ngerasa terhibur dan kadang terharu ketika melihat bagaimana hubungan antar karakter berkembang berkat keteguhan hatinya, dan itu alasan utamaku suka sama dia sebagai tokoh utama.