Cinta yang Tak Mungkin Kembali
Aku bersandar di dadanya, dadaku terasa sesak.
Sudah terlambat. Semuanya sudah terlambat.
Declan masih ingin berbicara, tetapi Safira keburu berjalan mendekat. "Declan, aku agak nggak enak badan. Kita pulang dulu, ya."
Aku melirik wajahnya yang tampak sehat dan kemerahan, lalu dengan sadar menarik diri dari pelukan Declan.
Seperti yang sudah kuduga, Declan pun segera melepaskan tangannya dariku, wajahnya penuh kepanikan. "Aku antar Safira pulang dulu. Kalau ada apa-apa, nanti kita bicarakan lagi."