Membaca syair Rabi'ah Al Adawiyah seperti menyelami samudra cinta yang dalam. Awalnya aku kesulitan memahami makna mistisnya, sampai suatu hari aku mencoba membacanya bukan sekadar sebagai puisi, tetapi sebagai dialog jiwa. Kuncinya adalah merasakan konteks zaman di mana ia hidup—seorang Sufi perempuan yang mencintai Tuhan dengan total, tanpa pamrih. Misalnya, ketika ia menulis 'Cinta-Ku adalah Tuhan', itu bukan metafora romantis, tapi pengakuan bahwa seluruh eksistensinya telah lebur dalam ketuhanan. Aku sering membandingkan puisinya dengan musik—ada ritme repetitif yang sengaja dibuat untuk menciptakan efek trance.
Yang membantuku adalah mempelajari terjemahan dari beberapa sumber berbeda, lalu menandai kata kunci seperti 'fana' (lebur) atau 'isyq' (cinta ekstatik). Aku juga menonton dokumenter tentang kehidupan Sufi abad ke-8 untuk membayangkan bagaimana Rabi'ah mungkin melihat dunia. Perlahan, syair-syairnya yang awalnya terasa abstrak mulai memiliki bentuk—seperti api yang awalnya hanya melihat asapnya, tapi kini bisa merasakan panasnya.