Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Rindu yang Terluka

Rindu yang Terluka

Dia candu dengan aromanya. Denyar luka, rasa rindu, rasa kecewa, kepercayaan yang mulai terbangun dan kini sedang terkoyak serasa memenuhi dada. Dikala dirinya hendak bangkit untuk meneruskan rumah tangga dengan Daffa, ada saja kerikil yang menjadi sandungannya. "Rin, kamu tidak kangen sama mas?" tanya Daffa seraya menyelipkan rambut ke belakang telinga. Mengelus pipi dan mengecupnya.
9.9189.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 7.0K kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
KUMINTA CERAI KETIKA RAHASIA SUAMIKU TERBONGKAR

KUMINTA CERAI KETIKA RAHASIA SUAMIKU TERBONGKAR

Rania menjerit kencang dan terus memohon, berharap Alfi masih punya sedikit rasa kasihan padanya. Alfi tak peduli suara larangan itu. Kini ia sudah bisa menikmati kembali surga dunia yang sudah lama ia nantikan. Ia mengulangi beberapa kali sampai puas, membuat suara Rania mulai memelan karena kelelahan menjerit. Alfi membalikkan tubuh istrinya. Saat itu ponsel yang semula dikeluarkan Alfi dari saku baju dress, kini tergeletak diatas kasur. Rania berusaha menelpon Fira meminta bantuan.
1010.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 380 kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
Kubawa Benihmu, Mas!

Kubawa Benihmu, Mas!

"Alif, apakah kamu tidak merindukan seseorang?" "Percuma, biarkan saja bagai air mengalir rindu itu hingga sampai jauh, Ky. Aku sudah ikhlas," papar Alifian dengan nada rendah dan menunduk. Kiara diam, tatapannya menuju ke jalan raya. Dia seperti sedang menunggu seseorang. Sesekali dilihatnya jam pada pergelangan tangan. Kemudian kepalanya menggeleng lirih. Alifian mengernyitkan dahi kala dilihatnya wajah gadis kecil itu tampak kecewa.
1033.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 770 kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
Rindu Yang Terpendam

Rindu Yang Terpendam

Linda. Saat gadis itu sadar dr.Linda mengabarinya, tapi ia lupa memberi tahu jika ada seorang lelaki yang selalu menemani Zahra ketika ia tugas di rumah sakit lain. Dengan perasaan yang bahagia dr.Rayan pun menuju rumah sakit HARAPAN BUNDA tempat ia bekerja ketika tugasnya selesai di rumah sakit lain. Tak lupa ia membawa buah-buahan dan seikat mawar merah untuk Zahra. Ia berniat untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Namun sayang harapan tinggallah harapan, saat ia melihat seorang lelaki tengah bersama Zahra. Mereka bahagia sangat bahagia bahkan ia tak pernah melihat Zahra sebahagia itu.
106.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 133 kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
RINDU MENJANDA

RINDU MENJANDA

Aku mengulum senyum membaca pantun pembuka surat dari Pak Arif. Hai, Bu Rindu. Mohon maaf kalau tulisanku jelek ya. Mungkin mata Bu Rindu akan sakit membacanya. Apalagi aku menulis surat ini secepat kilat, sekilat kehadiran Bu Rindu dalam hariku hingga kini pergi menjauh.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
Bukan Orang Ketiga

Bukan Orang Ketiga

Rafa tak peduli lagi, ia kembali memagut bibir Shofi hingga terjeda ketika ia menggendong tubuh sang istri lalu membaringkan di ranjang kemudian melanjutkan apa yang ia inginkan dan ia tahan selama berpisah. *** Sejak tahu hamil, Alya sering tiba-tiba merindukan sang suami, entah pengaruh hormon kehamilan atau wujud dari ngidam sehingga jika merasa rindu mau tak mau ia harus bertemu sang suami secara langsung. Seperti saat ini, meski siang hari ia memilih datang ke kantor Akbar. Wanita itu sedang duduk di sofa bersebelahan dengan Akbar.
1021.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 693 kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
Terjerat Cinta Pesepakbola Tampan

Terjerat Cinta Pesepakbola Tampan

@Sasmaya [Baguslah kalau masih memiliki rasa rindu] [Aku hanya memastikan saja] Ale menggelengkan kepalanya sementara senyum tak lepas dari bibirnya. Sasmaya membuatnya sedikit lebih memahami arti rindu. Bukan sekadar sebuah perasaan ingin berjumpa semata, tetapi tentang sebuah kehilangan yang sulit tergantikan. "Apa ada yang membuatmu bahagia Ale? " Tiba-tiba saja Alicia menegurnya dan dia sudah duduk di hadapannya.
103.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 93 kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
DENDAM IBU TIRI

DENDAM IBU TIRI

Hatinya begitu teriris ketika melihat betapa putri kesayangannya itu sangat merindukan bundanya. "Ya Allah, Alia ternyata sangat merindukan Amaliya. Sampai dia menganggap jika Ayu itu adalah Amaliya, bundanya yang sudah meninggal. Padahal tidak ada satupun wanita yang bisa menyamai Amaliya ...." batin Mihran. bersambung ....
5.58.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 198 kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga

Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga

“Maaf, Sar. Sedari tadi aku banyak kerjaan. Ada saja yang harus diurus.” Aku tersenyum, berusaha mengerti keadaannya. Positifnya saat sering berpisah, kami berdua selalu memendam rindu. Hati ini selalu menghangat saat mendengar suara. Jangan ditanya apa yang terjadi saat dia pulang. Seakan menumpahkan kerinduan, kami sama-sama terhanyut dalam indahnya cinta. Mungkin itu salah satu alasan Alya kalau Mas Wira pulang dia kembali ke rumah sebelah.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 101 kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
Istri Kontrak Sang Hafidz

Istri Kontrak Sang Hafidz

Bukan cincin, bukan hadiah, melainkan selembar kertas. “Apa ini?” tanya Alya. “Doa yang dulu pernah aku tulis,” jawab Damar. “Tapi sekarang, aku mau kamu baca.” Fai membuka lipatan kertas itu: _"Ya Allah, jika dia baik untuk hidupku, untuk agamaku, dan akhiratku, maka dekatkan. Tapi jika dia hanya akan membuatku berpaling dari-Mu, maka lepaskan dengan lembut."_
586 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 17 kali sebagai syair alfiyah tentang rindu
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ada sesuatu dalam kata-kata Amir Hamzah yang selalu membuat napasku tertahan.

Aku suka bagaimana rasa rindu pada puisinya tidak sekadar rindu kepada sosok manusia—melainkan rindu yang meluas sampai ke tanah, langit, bahkan kepada yang tak kasat mata. Dalam kumpulan seperti 'Nyanyi Sunyi' bayangan malam, bulan, angin, dan bunga-bunga dipakai bukan cuma sebagai hiasan; mereka jadi medium untuk mengekspresikan kekosongan yang manis dan pedih sekaligus. Ada baris-baris yang membuatku merasa sedang menunggu seseorang di persimpangan waktu: meraba-raba memori, mendengar gema kata-kata yang menghilang.

Dari sudut personal, aku sering terhanyut oleh permainan bunyi dan pengulangan yang seolah-olah menekankan denyut rindu itu sendiri—berulang seperti napas. Struktur bahasanya, yang tetap kental nuansa Melayu klasik tapi tersentuh sentuhan modern, membuat rindu terasa sakral sekaligus sangat manusiawi. Kadang rindu itu berbalut religiusitas; terasa seperti kerinduan menuju sesuatu yang ilahi, bukan hanya asmara. Aku pulang dari membaca puisinya dengan perasaan lembut namun tak bisa langsung reda, seperti rumah yang pintunya masih terbuka, menunggu langkah yang belum kembali.

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status