Kontrak Cinta, Luka Nyata
“Tapi, aku percaya, kalau cinta itu tulus, ia akan bertahan.”
Malam makin larut. Tama akhirnya pamit setelah beberapa jam. Sebelum pergi, ia sempat menatap ruko kecil di seberang rumahnya, tempat yang sedang direnovasi untuk pusat konseling Alya.
“Tempat itu untuk siapa?” tanyanya.
Alya tersenyum lembut. “Untuk perempuan yang ingin sembuh, termasuk aku sendiri.”
Tama menatapnya lama, lalu berkata, “Kalau begitu, aku harap suatu hari, tempat itu juga bisa menyembuhkanku.”
Hot Chapters