Ada teman dekatku yang pernah menghadapi masalah serupa. Dia bercerita bahwa awalnya dia merasa sangat terluka setiap kali suaminya mengancam cerai saat emosi. Tapi lama kelamaan, dia menyadari bahwa itu hanya bentuk luapan emosi sementara. Yang akhirnya membantu adalah menetapkan batasan tegas. Setelah suaminya tenang, dia dengan kalimat tegas bilang, 'Aku mengerti kamu marah, tapi ancaman cerai itu menyakitkan dan tidak produktif. Jika ini terus terjadi, kita perlu pertimbangkan konseling.' Perlahan, suaminya mulai sadar dan mengurangi kebiasaan itu. Intinya, komunikasi saat kondisi netral dan konsistensi dalam menolak perilaku toxic sangat penting.
Selain itu, mereka juga mulai mencari aktivitas bersama untuk mengurangi ketegangan, seperti main board game atau nonton series komedi. Ternyata, mengurangi pemicu stres dalam hubungan juga membantu meredam ledakan emosi. Jadi selain tegas, membangun ikatan positif juga diperlukan.