Selir Yang Terlupakan
Tangannya bergerak menyusuri seluruh tubuhku, sentuhannya tegas dan penuh rasa memiliki—menandai setiap inci kulitku sebagai miliknya, dalam segala hal yang paling berarti.
"Aku akan mengingat setiap sentuhan yang kuberikan padamu, setiap hembusan napasmu, setiap suara yang lolos dari bibirmu malam ini," bisiknya pelan tepat di mulutku. "Aku akan membawa kenangan ini bersamaku saat aku berperang di medan perang yang jauh, saat aku duduk berjam-jam dalam sidang dewan pemerintahan. Kau telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diriku, Lianhua."