Pembalasan Sang Dokter Jenius
Ki Banyu dan Ki Agni mengikutinya seperti bayangan.
Rumah itu mewah. Perabotannya mahal, sofanya terbuat dari kulit asli, lantainya marmer, dan ada sebuah kolam renang kecil di halaman belakang. Hartono telah mengatur segalanya agar sang dukun besar merasa nyaman. Namun bagi ketiga pertapa itu, kemewahan ini justru terasa dingin, steril, dan tidak berjiwa.
“Menjijikkan,” gumam Ki Agni, menatap sebuah lukisan abstrak modern yang tergantung di dinding. “Tidak ada ketenangan di tempat ini.”