Jurnal Sang Dokter
Aku berjalan masuk ke ruang pemeriksaan, duduk perlahan, lalu mengulaskan senyum padanya.
“Saya dokter Romansa,” ucapku.
“Saya yang praktek di sini, bukan dokter Arya,” ucapku.
Mariana menatapku tajam, lalu dia menarik tanganku, menggenggamnya erat.
“Tolong aku, hanya kau yang bisa menolongku,” ucap Mariana dengan mata serius.
“Apa yang bisa saya lakukan?” tanyaku.